JENIS-JENIS LIMBAH NON B3 INDUSTRI DAN CARA PENGELOLAANNYA YANG TEPAT
Jenis limbah non B3 yang dihasilkan industri dapat sangat beragam, tergantung bahan baku, teknologi produksi, jenis produk, kegiatan maintenance, sistem pengemasan, hingga aktivitas pendukung di dalam perusahaan.
Dalam satu fasilitas industri saja dapat ditemukan material sisa berupa plastik, logam, karton, kayu, kaca, tekstil, material organik, maupun residu proses tertentu.
Namun, terdapat satu prinsip penting yang harus dipahami:
suatu material tidak boleh langsung dinyatakan sebagai limbah non B3 hanya berdasarkan bentuk fisiknya.
Plastik yang terlihat biasa, misalnya, dapat membutuhkan jalur pengelolaan berbeda apabila sebelumnya digunakan untuk menyimpan atau bersentuhan dengan bahan tertentu.
Begitu juga dengan kain, kemasan, serbuk, logam, tanah, maupun residu produksi lainnya.
Karena itu, identifikasi sumber, proses yang menghasilkan limbah, karakteristik material, kemungkinan kontaminasi, serta ketentuan yang berlaku harus menjadi bagian dari proses klasifikasi.
Di Indonesia, pengelolaan limbah non B3 termasuk dalam ruang lingkup PP Nomor 22 Tahun 2021. Permen LHK Nomor 19 Tahun 2021 kemudian mengatur tata cara pengelolaan limbah nonbahan berbahaya dan beracun, termasuk pengurangan, penyimpanan, pemanfaatan, penimbunan, pengangkutan, perpindahan lintas batas, serta pemantauan dan pelaporan.
Apa yang Dimaksud dengan Limbah Non B3?
Secara regulasi, limbah non B3 merupakan sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang tidak menunjukkan karakteristik limbah bahan berbahaya dan beracun.
Permen LHK Nomor 19 Tahun 2021 membedakan limbah non B3 yang dikelola berdasarkan ketentuan tersebut menjadi:
- Limbah Non B3 Terdaftar
Limbah non B3 terdaftar merupakan limbah yang tercantum dalam Lampiran XIV PP Nomor 22 Tahun 2021.
Artinya, penentuan statusnya mengacu pada sumber dan jenis limbah sebagaimana ketentuan tersebut, bukan sekadar berdasarkan istilah umum seperti “plastik”, “kayu”, atau “logam”.
- Limbah Non B3 Khusus
Limbah non B3 khusus merupakan limbah B3 yang telah dikecualikan dari pengelolaan limbah B3 melalui penetapan Menteri.
Kegiatan pengelolaan limbah non B3 khusus memiliki ketentuan tersendiri dan perlu mengikuti persetujuan serta persyaratan yang ditetapkan.
Karena itu, perusahaan perlu membedakan antara:
pengelompokan material untuk kebutuhan operasional
dan
penetapan status limbah berdasarkan regulasi.
Dalam artikel ini, kategori plastik, logam, kayu, karton, dan sebagainya digunakan sebagai pengelompokan praktis berdasarkan material, bukan sebagai penetapan hukum bahwa semua material dalam kategori tersebut otomatis merupakan limbah non B3.
Dari Mana Limbah Non B3 Industri Berasal?
Limbah dapat muncul hampir di seluruh aktivitas perusahaan.
Beberapa sumber yang umum antara lain:
Production Line
Sisa bahan, potongan material, reject material, atau residu proses.
Packaging
Karton, plastik wrapping, pallet, strap, dan material pengemasan lainnya.
Warehouse
Kemasan rusak, pallet, material tidak terpakai, dan barang tertentu yang tidak lagi digunakan.
Maintenance
Komponen atau material bekas dari kegiatan perbaikan yang statusnya telah diidentifikasi.
Construction & Renovation
Material bongkaran atau sisa konstruksi tertentu.
Office
Kertas, karton, serta material administratif lainnya.
Utility Area
Residu tertentu yang dihasilkan dari kegiatan utilitas dan telah ditentukan statusnya.
Kantin dan Fasilitas Pendukung
Material organik dan kemasan konsumsi.
Dengan melakukan pemetaan tersebut, perusahaan dapat mengetahui waste stream atau aliran limbah dari masing-masing area.
Jenis-Jenis Limbah Non B3 Industri Berdasarkan Material
Untuk kebutuhan pengelolaan operasional, material dapat dikelompokkan berdasarkan jenisnya.
Berikut beberapa kategori yang sering ditemui pada kegiatan industri.
- Limbah Kertas dan Karton
Material kertas dan karton banyak dihasilkan dari:
- packaging;
- warehouse;
- administration;
- shipping;
- receiving material;
- document handling; dan
- kegiatan logistik.
Contohnya dapat berupa:
- kardus;
- karton;
- kertas kantor;
- paper core;
- box packaging; dan
- material berbasis kertas lainnya.
Risiko Pengelolaan yang Tidak Tepat
Kertas dan karton mudah menyerap air.
Apabila disimpan pada area terbuka:
Material kering
↓
Terkena air
↓
Berat meningkat
↓
Kualitas menurun
↓
Recovery menjadi lebih sulit
Karton juga membutuhkan ruang besar apabila tidak dipadatkan.
Cara Pengelolaan
Segregation
Pisahkan dari material basah dan material lain yang dapat menyebabkan kontaminasi.
Dry Storage
Simpan pada area yang terlindung dari kondisi yang dapat merusak kualitas.
Baling / Compacting
Untuk volume besar, pemadatan dapat membantu mengurangi kebutuhan ruang.
Recycling / Recovery
Material yang memenuhi spesifikasi dapat diarahkan menuju proses pemanfaatan atau recycling yang sesuai.
- Limbah Plastik
Plastik merupakan salah satu material yang banyak digunakan dalam kegiatan industri.
Sumbernya dapat berupa:
- packaging;
- plastic wrapping;
- production scrap;
- container tertentu;
- plastic sheet;
- strap;
- protective packaging; dan
- material polimer lainnya.
Tantangan Utama
Tidak semua plastik memiliki kualitas yang sama.
Jenis resin, warna, kebersihan, kadar kontaminasi, dan bentuk fisik dapat memengaruhi kemungkinan pemanfaatannya.
Plastik yang tercampur dengan material lain juga dapat memiliki nilai recovery yang lebih rendah.
Cara Pengelolaan
Pisahkan Berdasarkan Jenis
Apabila secara operasional memungkinkan, pisahkan material berdasarkan jenis dan kualitas.
Jaga Kebersihan Material
Hindari pencampuran dengan residu lain.
Shredding
Pencacahan dapat digunakan untuk material tertentu sebelum proses lanjutan.
Baling / Compacting
Untuk plastik ringan dan berukuran besar, pemadatan dapat meningkatkan efisiensi penyimpanan dan transportasi.
Recovery / Recycling
Material yang sesuai dapat diarahkan kepada pihak yang memiliki kemampuan pengelolaan yang relevan.
- Limbah Logam
Sisa logam umum ditemukan pada industri:
- fabrikasi;
- machining;
- konstruksi;
- manufacturing;
- workshop;
- maintenance; dan
- engineering.
Contohnya dapat berupa:
- metal offcut;
- scrap plate;
- potongan besi;
- aluminium;
- stainless steel;
- kawat;
- komponen metal tertentu; dan
- sisa proses machining yang telah diverifikasi statusnya.
Mengapa Perlu Dipisahkan?
Logam sering kali masih memiliki nilai material.
Apabila seluruh scrap logam dicampur:
Mixed Metal
↓
Sorting Required
↓
Additional Handling
↓
Lower Efficiency
Sebaliknya, material yang sudah terpisah berdasarkan jenis lebih mudah diproses.
Cara Pengelolaan
- identifikasi sumber;
- pisahkan berdasarkan material;
- gunakan container yang sesuai;
- timbang;
- catat jumlah;
- hindari pencampuran;
- lakukan recovery atau recycling melalui jalur yang sesuai.
- Limbah Kayu
Kayu banyak digunakan untuk:
- pallet;
- crate;
- packaging;
- construction;
- temporary structure; dan
- kegiatan warehouse.
Contohnya dapat berupa:
- pallet rusak;
- potongan kayu;
- crate;
- papan;
- wood packaging; dan
- offcut material.
Prioritas Pengelolaan
Jangan langsung menganggap pallet rusak sebagai limbah.
Evaluasi terlebih dahulu:
Can it be repaired?
↓
YES → REPAIR & REUSE
↓
NO → MATERIAL RECOVERY / OTHER APPROPRIATE MANAGEMENT
Pendekatan reuse dapat mengurangi kebutuhan membeli pallet baru sekaligus mengurangi limbah.
Cara Pengelolaan
- pisahkan kayu dari material lain;
- bedakan material reusable dan unusable;
- lakukan repair apabila memungkinkan;
- simpan di area aman;
- kurangi volume apabila dibutuhkan;
- evaluasi peluang recovery.
- Limbah Kaca
Material kaca dapat berasal dari:
- packaging;
- production;
- construction;
- laboratory activities tertentu yang telah diklasifikasikan;
- product reject; dan
- fasilitas pendukung.
Risiko Utama
Kaca memiliki risiko operasional karena mudah pecah dan dapat menghasilkan bagian tajam.
Cara Pengelolaan
Gunakan:
- wadah yang kuat;
- identifikasi jelas;
- area terpisah;
- prosedur handling;
- APD sesuai kebutuhan; dan
- sistem pengangkutan yang mencegah material tercecer.
Material kaca yang memenuhi persyaratan dapat diarahkan menuju recycling atau jalur pemanfaatan yang sesuai.
- Limbah Tekstil dan Kain
Industri tertentu menghasilkan:
- fabric offcut;
- kain produksi;
- potongan tekstil;
- material woven/non-woven;
- protective fabric; dan
- sisa bahan produksi lainnya.
Namun kategori ini membutuhkan perhatian khusus.
Kain yang pernah digunakan untuk membersihkan bahan tertentu tidak boleh otomatis dimasukkan ke kategori limbah non B3 hanya karena bentuknya berupa kain.
Sumber dan riwayat penggunaannya perlu diperiksa terlebih dahulu.
Cara Pengelolaan
Untuk material yang memang telah diklasifikasikan sebagai non B3:
- pisahkan berdasarkan jenis;
- hindari kontaminasi;
- simpan dalam kondisi yang sesuai;
- compact apabila memungkinkan;
- evaluasi reuse;
- evaluasi recycling atau recovery.
- Limbah Kemasan
Packaging waste dapat menjadi salah satu waste stream terbesar pada perusahaan.
Jenisnya antara lain:
- karton;
- plastik;
- film;
- strap;
- pallet;
- container;
- protective foam; dan
- material pengemas lainnya.
Namun sekali lagi:
status kemasan harus mempertimbangkan material apa yang pernah berada di dalam atau bersentuhan dengannya.
Kemasan yang pernah digunakan untuk material tertentu dapat memerlukan evaluasi berbeda.
Strategi Pengelolaan
Reusable Packaging
Prioritaskan box atau container yang dapat digunakan berulang kali.
Supplier Take-Back
Pertimbangkan program pengembalian packaging kepada supplier.
Segregation
Pisahkan berdasarkan material.
Compacting
Kurangi volume sebelum pengangkutan apabila sesuai.
Recovery
Arahkan material berkualitas menuju proses lanjutan.
- Limbah Organik
Pada fasilitas industri tertentu, material organik dapat berasal dari:
- kantin;
- food processing;
- landscaping;
- kegiatan pertanian tertentu; atau
- proses berbasis bahan organik.
Material organik memiliki karakteristik berbeda dibanding plastik atau logam.
Jika disimpan terlalu lama, material tertentu dapat:
- menimbulkan bau;
- menarik hewan atau serangga;
- menghasilkan cairan;
- menurunkan housekeeping; dan
- meningkatkan volume residu.
Cara Pengelolaan
- lakukan pemisahan sejak sumber;
- jangan campur dengan material recyclable;
- gunakan container yang sesuai;
- atur frekuensi pengumpulan;
- hindari penyimpanan terlalu lama;
- evaluasi metode pemanfaatan yang sesuai.
- Limbah Material Mineral atau Inert Tertentu
Beberapa aktivitas industri, konstruksi, dan proses produksi dapat menghasilkan material seperti:
- pecahan material;
- material mineral;
- residu konstruksi;
- material granular;
- debu atau serbuk tertentu; dan
- residu proses lainnya.
Namun, kategori ini tidak boleh digeneralisasi sebagai non B3.
Setiap jenis material perlu diperiksa berdasarkan:
- sumber;
- proses pembentukan;
- komposisi;
- kemungkinan kontaminasi;
- ketentuan regulasi; dan
- hasil pengujian apabila diperlukan.
Untuk material yang telah dipastikan sebagai limbah non B3, metode pengelolaan dapat mempertimbangkan:
- screening;
- size reduction;
- segregation;
- reuse;
- recovery;
- pemanfaatan; atau
- pengelolaan residu sesuai persyaratan.
- Reject Product dan Sisa Produksi
Industri sering menghasilkan material akibat:
- produk gagal;
- salah ukuran;
- trimming;
- cutting;
- perubahan spesifikasi;
- quality rejection;
- startup production; dan
- process loss.
Reject product perlu dianalisis lebih dalam karena dapat menjadi indikator inefisiensi proses produksi.
Contoh:
Raw Material
1.000 kg
↓
Finished Product
850 kg
↓
Production Waste
150 kg
Waste rate:
15%
Jika perbaikan proses dapat mengurangi waste menjadi 100 kg:
Waste Rate = 10%
Maka perusahaan tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku.
Prioritas Pengelolaan
Prevent
↓
Reduce
↓
Reuse in Process
↓
Recover
↓
Manage Residual
